Ringkasan Cerita “ Asal Mula Sungai Kawat”
Pada
zaman dahulu, ketika orang Sintang baru didirikan oleh Djubir I, hiduplah
seorang nelayan sungai dengan istri dan anak-anaknya. Keluarga nelayan itu
tergolong keluarga miskin. Setiap hari sang ayah hanya mengantungkan hidupnya
dari menangkap ikan. Kadang-kadang mujur, tetapi ada kalanya sehari penuh ia
tidak mendapatkan seekor ikan pun. Pada suatu hari, nelayan itu pergi memancing.
Ia membawa tiga atau empat pancing untuk menghindari hal buruk jika satu
pancingnya rusak.
Sang
Nelayan selalu bertekad bulat tidak akan pulang ke rumah jika ia belum
mendapatkan seekor ikanpun di tangan. Maka tempat memancingnya selalu
berpindah-pindah. Jika tidak ada ikan yang menyambar mata pancingnya, ia akan
berpindah ke tempat lain yang dirasanya lebih baik. Ia tidak pernah berputus
asa.
Pada
suatu hari, Sang Nelayan kembali mencari ikan di sungai menggunakan perahu seorang
diri. Sudah cukup lama ia menunggu, tidak ada seekor ikanpun yang ia dapat. Ketika
matahari mulai condong ke ufuk barat. Ia mendayung perahunya lebih ke hulu
dengan harapan di sana ada ikan yang menarik pancingnya. Di sebuah teluk kecil
yang banyak batunya, nelayan itu berhenti. Tanah disekitar tempat itu berlumut
dan ditumbuhi pohon-pohon kayu yang besar.
“Mungkin di sini banyak ikannya,”pikir nelayan
itu.
Ia
memulai menganti umpan pancingnya dengan umpan yang baru. Kemudian pancing itu
diulurnya ke dalam air. Setelah begitu lama Ia menunggu, tidak ada tanda-tanda
pancingnya akan ditarik oleh ikan.
“Ada
apa ini? Apa yang terjadi dengan ikan-ikan di sini? Apa tak punya rasa lapar
mereka itu?”ujar Sang Nelayan sambil memperhatikan suasana di sekitarnya.
Dengan
hati-hati ia melempar mata kail ke tengah sungai lalu menunggu dengan penuh
harap ada ikan yang menyambar. Rupanya Tuhan mendengar doanya. Kali ini sebuah
tarikan kuat membuatnya tersentak. Begitu kuatnya tarikan ikan yang telah
memangsa pancingnya, hingga ia sampai berulang kali mengulur tali pancingnya
agar tidak putus di tengah jalan yang mengakibatkan ikannya lepas.
Tarik
ulur terus terjadi hingga Sang Nelayan kelelahan. Namun ia tidak mau menyerah
begitu saja. Ketika perlawanan si ikan mulai melemah. Wajahnya berbinar cerah.
Harapannya membawa ikan besar untuk keluarga kembali mengembang. Ditariknya
mata pancingnya ke atas dengan perlahan.
Namun
apa yang terjadi sungguh mengejutkan. Ternyata bukan ikan yang ia dapat
melainkan gulungan kawat yang menyangkut di mata kailnya. Wajahnya seketika
berubah muram dan dengan menggerutu ia hendak melempar gulungan kawat itu ke
sungai. Namun sinar sang surya yang mulai temaram telah mengejutkan dirinya
karena ternyata kawat yang ia dapat itu bukan sembarang kawat. Diantara
temaram, ia menyaksikan kawat emas yang berkilauan indah.
Sang
Nelayan kemudian menarik kawat sisanya yang masih ada di dalam sungai. Satu
meter dua meter hingga bermeter-meter kawat emas telah berhasil dinaikannya ke
atas perahu hingga terdengar sebuah suara di telinganya.
“Kau
sudah memperoleh cukup banyak kawat emas. Potonglah sekarang dan pulanglah ke
rumah agar keluargamu senang melihat hasil jerih payahmu ini,”pesan suara gaib
di telinga Sang Nelayan.
Namun
Nelayan itu tidak peduli. Kemiskinan yang lama mendera membuat ia ingin membawa
pulang kawat sebanyak-banyaknya. Ia ingin menjadi orang kaya yang serba
tercukupi kebutuhannya. Ia bosan hidup menderita. Sifat tamak di hatinya
membuat ia tidak mengindahkan suara gaib yang terus terdengar berulang kali
mengingatkan dirinya untuk segera memotong kawat itu sebelum masalah besar
datang.
Hal
itu karena perahu kecilnya sudah tidak sanggup lagi membawa beban kawat yang
terus bertambah. Lama kelamaan, perahunya terisi air kemudian oleng dan
tenggelam ke dasar sungai. Si Nelayan tersebut baru menyadari kesalahannya dan
dia berusaha berjuang untuk berenang ke tepi sungai namun gagal karena ia sudah
sangat kelelahan.
Tubuhnya
melorot ke bawah sungai bergabung dengan kawat emas yang gagal ia bawa pulang.
Jasadnya tidak berhasil diangkat meskipun para penduduk telah berusaha sekuat
tenaga untuk mencarinya. Untuk mengenang kejadian menyedihkan tersebut, mereka
kemudian menamakan sungai itu dengan nama Sungai Kawat. Sungai tersebut adalah
salah satu anak Sungai Kapuas di Kota Sintang, Kalimantan Barat.
3. Cerita
rakyat “Asal Mula Sungai Kawat” termasuk dalam cerita legenda karena menceritakan tentang asal nama sungai di Kota Sintang
Kalimatan Barat yang diceritakan
turun temurun dan diyakini oleh masyarakat
sekitar sebagai suatu cerita yang benar-benar terjadi. Cerita tersebut
tergolong dalam cerita anak/sastra anak karena penyajiannya secara langsung dan
tidak berbelit-belit. Bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Melalui
cerita tersebut anak dapat memperoleh pengetahuan tentang sifat/watak tokoh
cerita yang bisa menjadi pembelajaran bagi mereka. Dari cerita tersebut, anak
dapat menanamkan kepekaan rasa untuk membedakan mana sikap yang baik dan buruk,
penanaman tentang rasa tanggung jawab, pengorbanan dan sikap pantang menyerah.
4 a.
Tema : Sifat serakah
yang membawa petaka.
b.
Tokoh cerita :
Nelayan merupakan tokoh sentral dalam cerita tersebut.
c.
Alur cerita : Cerita
Asal Mula Sungai Kawat menggunakan alur maju. Alurnya yang tidak terlalu
panjang dan berurutan sehingga mudah dipahami.
d.
Latar cerita : latar
sosial menunjukkan gambaran masyarakat yang hidup di tepi sungai mayoritas
bekerja sebagai nelayan. Karena hanya menggantungkan dari hasil menangkap ikan,
kehidupan masyarakat di tepian sungai pada masa itu sangat masih terlihat
sangat miskin.
e.
Sudut Pandang : Sudut
pandang orang ketiga karena si penulis berada di luar isi cerita dan hanya
mengisahkan tokoh dia “nelayan” di dalam cerita tersebut.
f.
Gaya Bahasa: Gaya
bahasa cerita tersebut sangat ringan dan bisa dibaca oleh siapapun. Asal Mula
Sungai Kawat dapat digolongkan dalam cerita anak karena bahasanya yang
sederhana sehingga anak-anak mudah menangkap pesan cerita tersebut.
g.
Amanat Cerita :
Cerita tersebut memberi pesan bahawa kita tidak boleh menjadi orang yang
serakah karena dapat merugikan diri sendiri.
Manfaat dari cerita “Asal
Mula Sungai Kawat”
adalah kita dapat mengetahui asal mula nama salah satu sungai di
Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Kalimantan dan sungainya tidak bisa
dipisahkan. Salah satu sungai terpanjang yang ada di Indonesia terletak di
Kalimantan yaitu Sungai Kapuas. Sungai Kawat adalah salah satu anak dari Sungai
Kapuas. Dahulu masyarakat di tepi sungai sudah
memanfaatkan sungai sebagai sumber air yang dapat digunakan untuk cadangan air bersih bagi
manusia seperti keperluan minum,
makan, mandi, cuci, dll. Sungai
merupakan urat nadi kehidupan masyarakat yang telah turun menurun berkembang di
Kalimantan, sehingga kota-kota di Kalimantan pada dasarnya tumbuh dan
berkembang dari cikal bakal permukiman tepi sungai.
Di
Kalimantan sendiri banyak pemukiman yang berdiri di tepi sungai yang mengalir
di pulau Kalimantan dan banyak warga setempat yang sangat bergantung pada
aliran sungai. Kehidupan
masyarakat di daerah Kalimantan berkembang di atas sungai yang menjadikan ciri
khas dan budaya. Bentuk rumah pada umumnya rumah panggung dengan tiang, lantai,
dinding dan atap terbuat dari kayu ulin. Pada permukiman di tepian sungai,
antara rumah satu dengan yang lain dihubungkan dengan titian, dan setiap rumah
memiliki batang, yaitu sejenis rakit yang ditempatkan di sungai depan rumah
yang berfungsi sebagai tempat mandi, cuci, dan jamban (MCK). Tidak hanya itu, sungai juga dijadikan
sebagai jalur air untuk pergi ke suatu tempat. Sebelum dibangun jembatan,
biasanya akan banyak ditemukan parahu atau getek untuk membantu orang-orang
dalam menyebrangi sungai.
Selain itu, cerita tersebut terkandung pesan moral diantaranya
yaitu
a. Sikap Tanggung Jawab
Sikap
tanggung jawab nelayan ditunjukkan dengan dia rela mencari ikan untuk
menghidupi keluarganya yang miskin.
b. Sikap Pantang Menyerah
Sikap pantang
menyerah ditunjukkan ketika sikap nelayan dalam mencari ikan.
Sang
Nelayan selalu bertekad bulat tidak akan pulang ke rumah jika ia belum
mendapatkan seekor ikanpun di tangan. Maka tempat memancingnya selalu
berpindah-pindah. Jika tidak ada ikan yang menyambar mata pancingnya, ia akan
berpindah ke tempat lain yang dirasanya lebih baik. Ia tidak pernah berputus
asa. ................
Dengan
hati-hati ia melempar mata kail ke tengah sungai lalu menunggu dengan penuh
harap ada ikan yang menyambar. Rupanya Tuhan mendengar doanya. Kali ini sebuah
tarikan kuat membuatnya tersentak. Begitu kuatnya tarikan ikan yang telah
memangsa pancingnya, hingga ia sampai berulang kali mengulur tali pancingnya
agar tidak putus di tengah jalan yang mengakibatkan ikannya lepas.
Tarik
ulur terus terjadi hingga Sang Nelayan kelelahan. Namun ia tidak mau menyerah
begitu saja. Ketika perlawanan si ikan mulai melemah. Wajahnya berbinar cerah.
Harapannya membawa ikan besar untuk keluarga kembali mengembang. Ditariknya
mata pancingnya ke atas dengan perlahan.
c. Sikap Serakah
Pesan moral tentang
akibat dari sifat serakah ditunjukkan pada saat nelayan mendapatkan kawat emas, yaitu
:
“Kau
sudah memperoleh cukup banyak kawat emas. Potonglah sekarang dan pulanglah ke
rumah agar keluargamu senang melihat hasil jerih payahmu ini,”pesan suara gaib
di telinga Sang Nelayan.Namun Nelayan itu tidak peduli.
Kemiskinan
yang lama mendera membuat ia ingin membawa pulang kawat sebanyak-banyaknya. Ia
ingin menjadi orang kaya yang serba tercukupi kebutuhannya. Ia bosan hidup
menderita. Sifat tamak di hatinya membuat ia tidak mengindahkan suara gaib yang
terus terdengar berulang kali mengingatkan dirinya untuk segera memotong kawat
itu sebelum masalah besar datang.
Sifat
serakah bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri. Keserakahan
sering membuat orang buta mata dan hatinya. Kekayaan dan kebahagian yang
dicari, akhirnya menjadi petaka karena jiwa dipenuhi nafsu serakah yang tidak
pernah ada puasnya.
Komentar
Posting Komentar